Thursday, August 03, 2006

Pelangi Kampus dan Pelangi Indonesiaku; Sebuah Renungan

Pelangi Kampus dan Pelangi Imdonesiaku; Sebuah Renungan
Oleh: Ir. Respati wikantiyoso, MSA., PhD.


Iklim dunia pendidikan di Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Beberapa pakar pendidikan menyatakan bahwa sistem Pendidikan Nasional kita saat ini merupakan klimaks dari ketidakmampuan meletakkan dasar-dasar sistem pendidikan nasional. Terjadinya perubahan kurikulum, perubahan nama sekolah menengah, privatisasi (otonomi) PTN, serta sistem kontrol penyelenggaraan pendidikan di semua level telah memberikan dampak terjadinya perubahan paradigma managemen penyelenggaraan lembaga pendidikan di semua level.
Keadaan ini juga di stimulus oleh “iklim” global yang melanda dunia pendidikan. Beberapa lembaga pendidikan Luar Negri (tingkat pendidikan menengah dan tinggi) banyak yang melakukan ekspansi pasar ke Indonesia. Lembaga-lembaga tersebut diarahkan untuk “menjaring” segmen golongan atas (masyarakat mampu secara finansial), yang notabene sangat diperlukan oleh penyelenggara pendidikan (baca: pemerintah) sebagai segmen yang mampu memberikan subsidi silang bagi golongan masyarakat yang tidak atau kurang mampu secara finansial. Ada beberapa sebab ketertarikan golongan “the have” kepada intitusi pendidikan di LN antara lain ; (1) karena alasan gengsi atau “prestige” yang memang harganya mahal ?; (2) pendidikan di LN dianggap lebih berkualitas di banding di dalam negri. Tetapi bukanlah pemerintah telah memberi subsidi yang relatif besar ke PTN. Mestinya kualitas PTN kita mampu bersaing ditingkat global , bukan bersaing dengan PTS di tingkat lokal. Tetapi faktanya di Asia saja PTN kita hanya menduduki peringkat di atas angka 60-an. Kondisi saat ini justru muncul kekhawatiran dengan otonomi kampus PTN yang telah memiliki ”brand image” sangat baik di tingkat Nasional akan mengalami penurunan kualitas karena menyelenggarakan pendidikannya dengan sistem “kodian”.
Lalu bangaimana dengan Perguruan Tinggi Swasta ?. PTS sejak awal dengan segala kemampuan dan “kreativitasnya” mampu mandiri dengan subsidi pemerintah (yang yaris atau sama dengan “nol”), survive dan mampu mengembangkan diri di lingkungan eksternal yang penuh tantangan. Kebijakan pemerintah yang masih “memarginalkan” PTS dalam memeroleh grant pengembangan institusi. Gambaran di atas adalah fakta. Kita coba untuk berfikir positif dan sedikit dewasa untuk menerima fakta itu dengan konteks “kesabarannya” dan tidak untuk menyalahkan faktor eksternal tersebut. Yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana kondisi internal kita ? Apakah secara internal kita cukup kuat untuk mampu bersaing dalam kondisi eksternal yang semakin “mendung” ? Apakah kita mampu memunculkan titik-titik embun yang segar yang ditandai dengan kemunculan sebuah PELANGI harapan bagi kemapanan, serta penjaminan kualitas kehidupan kampus yang baik di masa depan bagi seluruh Civitas Akademika atau masyarakat kampus ?
Mari kita coba untuk memaknai keindahan pelangi yang walaupun munculnya sesaat tetapi banyak dinantikan insan, dan saat inipun sangat sulit untuk ditemui. PELANGI dapat dimaknai sebagai suatu potensi yang menjanjikan hadirnya suatu kondisi yang cerah, selalu hadir dalam kesejukan yang “kondusif” bagi jiwa seseorang serta mampu menghadirkan ketenangan. Pelangi adalah suatu komposisi warna yang sudah memiliki “patron” atau pola Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-dan Ungu. Keindahan dengan ritme dan “harmoni” warna. Mestinya akan rusak bila susunan komposisi tersebut berubah bahkan makna dan kesan keharmonisan itu juga akan hilang. Itulah esensi dan keindahan suatu PELANGI yang menjanjikan suatu harapan.
Indonesia atau “kita” sebenarnya memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat besar dan sangat beragam dari segi bidang keahlian, kemampuan personal, potensi kerjasama, sampai kepada sifat individual yang sangat beragam. Kondisi tersebut seperti unsur-unsur warna dalam PELANGI yang apa bila muncul secara individual maka akan menghadirkan warna MERAH – INGGA – KUNING – HIJAU – BIRU - NILA dan UNGU, yang mungkin akan menyakitkan mata, atau rasa silau bagi orang yang memandangnya. Tetapi akan berbeda jika keharmonisan “MEJIKUHIBINIU” Pelangi dapat kita hadirkan dalam institusi civitas academika (baca: komunitas pendidikan tinggi) untuk membangun Indonesia ini menjadi lebih kuat dari dalam. Diperlukan suatu sinergi semua elemen-unsur atau individu yang ada, tetapi sebenarnya juga tidak hanya syarat sinergi yang diperlukan, tetapi juga kesediaan untuk melakukan “pelunakan” atau penyesuaian diri secara individu maupun kelompok untuk menciptakan keharmonisan hubungan. Seperti halnya unsur MERAH dengan JINGGA (analog warna lainnya), ada kesediaan kedua warna tersebut untuk “menyesuaikan” dengan menghasilkan “gradasi” warna antara MERAH-JINGGA. Keadaan yang kemudian terwujud adalah keharmonisan sebuah susunan warna, secara makro terciptalah keindahan PELANGI.
Indonesia saat ini sedang mengalami proses perubahan yang sangat mendasar. Dan hal ini merupakan potensi yang harus disikapi positif oleh kita semua. Kita harus sadar bahwa melakukan perubahan harus dilakukan secara “harmonis” dan memerlukan waktu yang tidak seperti “pertunjukan sulap” yang kelihatannya sangat besar terjadi perubahan, hanya dengan kalimat: “sim-salabim” maka berubahlah. Kalau kita cermati proses perubahan “sulap” tersebut hanya fatamorgana (kaget dan/atau puas sesaat) saja, tetapi proses perubahan tersebut syarat akan “tipu muslihat”. Tentunya kita akan memilih perubahan yang harmonis, kontinue dan berkelanjutan. Kesadaran ini harus dapat kita bangun bersama untuk menciptakan perubahan negeri tercinta ini secara baik, harmoni dan indah untuk dinikmati.
Image sebuah pelangi memang indah dari kejauhan, demikian juga yang kita harapkan bahwa Indonesia ini harus kita bangun image-nya supaya dari lingkungan eksternal terlihat indah (image yang baik), sehingga menarik untuk dilihat, bahkan didekati dan dimasuki. Tetapi kita juga harus sadar bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna, bahwa pelangipun mungkin hanya menghadirkan keindahan “fatamorgana” kalau ini kita sadari maka keindahan itu harus berkualitas. Maknanya kesadaran pengembangan kualitas harus menjadi dasar dalam menciptakan pelangi Indonesia masa depan. Uraian ini sebenarnya hanya merupakan upaya pencerahan kondisi kita bersama. Semoga kita bisa mensinergikan semua potensi yang kita miliki untuk menciptakan perubahan (baca:perbaikan ke depan) dengan semangat keluar dari tantangan eksternal yang semakin “mendung”, dan kita hadirkan PELANGI dengan keindahan yang berkualitas bukan keindahan fatamorgana dari PELANGI. (RW, 2006)

2 Comments:

Blogger Karunia Ahmad said...

Suatu abstraksi yang bagus, saya jadi teringat akan lagu anak-anak PELANGI-PELANGI. Bahwa pelangi dicreate oleh "pelukis yang agung" atau oleh orang-orang yang memiliki "komitment" tinggi dengan sifat-sifat yang "agung" lah kira-kira begitu. So... untuk menbuat/menset suatu keindahan pelangi kampus/indonesia diperlukan personal-personal yang mempunyai komitmant dan "moralitas yang agung. Tapi juga harus diingat bahwa usaha itu harus mendapat "Ridho" Illahi. seperti akhir bait lagu tersebut; "Pelangi-Pelangi ciptaan Tuhan". Sangat religius memang lagu ini dan dapat dimaknai berbagi hal. (KA)

8:10 AM  
Blogger Andreas said...

dalam radius yang sangat jauh sekali, saya sempat berfikir pendidikan diindonesia seperti benang kusut partai politik. padahal pendidikan tidak ada kaitan khusus dengan politik tersebut. penyimpulan pelangi ibarat sebuah titik terang dari pencartian makna, atau pintu keluar dari sumber masalah. namun saya heran ? harusnya pelangi memberi contoh dengan sinar warnanya "perguruan tinggi wajib menemukan solusi cantik, yang konsisten dengan pendidikan", namun yang terjadi adalah perguruan tinggi hanya sebagai ajang mencari keuntungan dan lepas pada komitmen mencerdaskan kehidupan bangsa. sehingga tidak jarang pelangi itu tidak nampak indah jika dilihat.
solusinya : perguruan tinggi harus berfikir cerdas (selalu berfikir. dan menurut hemat saya ini adalah kesempatan perguruan tinggi khususnya swasta untuk berfikir cantik menghadapi persaingan industri pendidikan yang semakin komersial tersebut. namun tetap harus diimbangi dengan pemikiran dan gebrakan yang membuat masyarakat kembali mempercayainya. bukan terus pesimis seperti yang terjadi. yang jelas saya sangat sepakat jika pelangi menjadi dasar yang kuat terhadap pendidikan khususnya indonesia. (andreas-civitas)

12:00 AM  

Post a Comment

<< Home