Monday, August 28, 2006

Citra Kajoetangan Doeloe dan Sekarang

Citra Kajoetangan Doeloe dan Sekarang
Oleh: Respati Wikantiyoso
[1]

Kajoetangan, satu kata yang dahulu tidak asing bagi kera Ngalam (baca: Arek Malang),
bagaimana kini? Sekarang mungkin istilah Kajoetangan kurang atau bahkan sudah tidak dimengerti oleh orang Malang. Hal ini bisa terjadi karena nama Kajoetangan telah diganti dengan nama Basuki Rachmat. Perubahan ini boleh dianggap sesuatu yang sepele atau remeh akan tetapi sebenarnya membawa konsekwensi yang cukup signifikan terhadap pemahaman (baca; citra) spesifik suatu kawasan. Nama Kajoetangan dahulu menggambarkan suatu kawasan yang spesifik, daerah perdagangan yang elite dan nyaman untuk berbelanja atau sekedar uklam-uklam (jalan-jalan). Tetapi sekarang bahkan kata tersebut “hampir” terlupakan, karena penyebutannya-pun telah jarang digunakan oleh orang Malang.
Citra kawasan tidak terlepas dari pemahaman “image” tentang sesuatu yang ada atau pernah ada/melekat pada kawasan tersebut. Walaupun ada istilah apa arti sebuah nama? Tetapi nama Kajoetangan dan nama-nama lokal Malang yang lain seperti Tjlaket, Klodjen dan lainnya adalah satu nama yang sangat spesifik bahkan unik yang dapat menjadi satu “ciri” spesifik dan tidak terdapat di kota lain. Kekayaan Malang dengan Toponim tersebut sebenarnya merupakan aset yang harus dipertahankan dan dilestarikan untuk menjaga identitas Malang. Pencitraan spesifik (baca identitas) kawasan kota seperti halnya Kajoetangan sebenarnya tidak dapat dibangun tetapi terbentuk dengan sendirinya. Citra kawasan terbentuk dari pemahaman “image” atau pengenalan obyek-obyek fisik (bangunan dan elemen fisik lain) maupun obyek non fisik (aktifitas sosial) yang yang terbentuk dari waktu ke waktu. Aspek historis dan pengenalan “image” yang diitangkap oleh masyarakat kota menjadi penting dalam pemaknaan citra kawasan. Pergantian nama kawasan Kajoetangan yang telah “terlajur” dikenal oleh kera Ngalam dengan gambaran “image” yang melekat, tanpa sengaja menganti “image” dengan kawasan “Basuki Rachmat” seperti yang ada di kota-kota lain. Secara tidak langsung warga kota dipaksa untuk melakukan perubahan image (bahkan lingkungan fisiknya) menuju suatu keseragaman bukan mempertahankan identitas Malang. Proses perubahan nama jalan/kawasan menjadi nama nama pahlawan secara nasional (bahkan pada kota-kota kecamatan di plosok desa) tanpa disadari dapat mendorong terbentuknya “ketunggalrupaan” karakter kota-kota di Indonesia.
Kawasan Kajoetangan terletak mulai dari perempatan Alun-alun (kotak) utara sampai dengan pertigaan Oro-oro Dowo. Kawasan Kajoetangan merupakan kawasan perdagangan kota Malang dimasa pendudukan Kolonial Belanda. Seiring dengan tumbuhnya pemukiman orang Belanda di kota Malang pada tahun 1920-an yang membutuhkan fasilitas perdagangan kota, maka tumbuhlah kawasan perdagangan elite yang ada di jalan Kajoetangan tersebut, selain itu Kajoetangan merupakan jalan yang dilewati jalur penghubung kota Malang dengan kota Surabaya sehingga daerah yang strategis untuk kawasan perdagangan.
Pembangunan Gementee Malang waktu itu sangat pesat serta memacu munculnya gaya-gaya arsiektur bangunan baru di Malang. Di tahun 1930-an muncul bangunan yang ciri “Nieuwe Bouwen” yaitu beratap datar, gevel horizontal, dan volume bangunan berbentuk persegi empat serta berwarna putih. Bangunan sudut diolah dengan menggunakan elemen tambahan berupa menara. Seperti halnya bangunan kembar di simpang jalan Kajoetangan dengan jalan Semeroe pada tahun 1935-an didirikan komplek pertokoan yaitu toko buku “CCFT Van Dorp”, toko perhiasan “Juwiler Tan”, toko “HAZES” dan “hotel YMCA”. Empat bangunan yang dirancang sebagai pertokoan elite ini dirancang oleh seorang arsitek yang bernama “Karel Bos”. Dengan penyelesaian perancangan yang tanggap akan potensi keindahan lingkungan, yaitu membentuk bangunan sebagai gerbang vista untuk menampilkan gunung Kawi yang menjadi orientasi jalan Semeru. Pada masa ini pula berdiri bangunan pertokoan di daerah pertigaan jalan Kajoetangan dengan jalan Oro-oro Dowo yakni pertokoan “Deluxe”, juga beberapa bangunan lainnya yang pada umumnya mempunyai ciri yang sama yakni “Nieuwe Bouwen”. Setelah berakhirnya masa pendudukan Belanda di Malang banyak bangunan yang dipugar. Baik disebabkan oleh telah hancurnya bangunan tersebut saat perang kemerdekaan maupun karena alasan politis penguasa yang ingin menghilangkan kesan kekuasaan Belanda. Beberapa bangunan yang dapat menjadi “icon” dan “image” identitas kawasan ini antara lain:
1. Gereja GPIB Imanuel yang terletak di sebelah utara Alun-alun. Gereja ini didirikan tahun 1880 dan pernah dibongkar, dan dibangun kembali pada tahun 1912.
2. Gereja Katolik Hati Kudus Yesus yang didirikan pada tahun 1904. Arsitek gereja ini adalah Marius J. Hulswit. Karena kesulitan biaya dan konstruksi, maka menara pada pintu masuk dari gereja dengan gayanya gotik baru dibangun pada tanggal 17 Desember 1930. Perancang dari kedua menara ini adalah Biro Arsitek Hulswct, fermont & Ed. Cuyper dari Batavia.
3. Perempatan jalan Kajoetangan, jalan Semeroe dan Riebeck Straat (jalan Kahuripan) dirancangan sebagai titik pusat dari sistem lalulintas kota Malang. Oleh sebab itu, Karel Bos merancang penyelesaian jalan dan gedung-gedungnya dibuat simetri dengan bentuk bangunan kembar dengan gaya “Nieuwe Bauwen” dimana bentuk bangunan menyerupai gerbang untuk menyaksikan keindahan alam yang ada yaitu Gunung Kawi. Bangunan kembar diujung jalan Semeroe ini dapat dijadikan local landmark .
4. Daerah pertigaan jalan Oro-oro Dowo, jalan Celaket dan jalan Kajoetangan dengan pertokoan berbentuk curvalinear (melengkung) dan jam kota beserta penunjuk arah.
5. Rumah Makan “Oen”, Sejak awal berdirinya hingga kini (setelah beberapa kali renovasi), sistem tanda yang menempel pada fasade bangunan pada rumah makan ini tetap dipertahankan. Bahkan menu istimewa rumah makan oen ini beserta interior dan furniture-nya tetap dipertahankan.

Bila kita perhatikan kawasan Kajoetangan sekarang ini, telah terjadi begitu banyak perubahan yang terjadi. Kawasan Kajoetangan yang dulu sebagai kawasan perdagangan elite, dengan pola penataan kawasan yang terlihat tertata apik dan indah, telah kehilangan karakter “identitas”-nya sebagai suatu kawasan perdagangan elite kota Malang. Bentuk Arsitektural dari bangunan yang ada dikawasan ini dulu bercirikan Arsitektur gaya Belanda di Indonesia, yaitu Indische Empire dan Neuwen Bouwen. Beberapa bangunan yang terlihat harmonis antara satu dengan lainnya, kini telah berubah menjadi bangunan perkotaan yang tampil individu dengan bentuk yang tidak lagi selaras satu sama lainnya. Fasade (muka) bangunan berubah fungsi menjadi ajang promosi yang dan/atau iklan menutup sebagian besar muka bangunan. Tidak sedikit bangunan yang telah hilang baik secara keseluruhan maupun karakteristik arsitekturalnya. Perubahan tersebut disebabkan oleh perkembangan aspek sosial-ekonomi kots yang sangat kuat menekan perubahan tersebut. Perkembangan Kajoetangan sebagai daerah perdagangan “baru” saat ini secara fisik telah mengalami perubahan karakter kawasan. Penambahan elemen pelengkapan yang berupa jembatan penyeberangan, pemasan reklame dan ketinggian bangunan pada kawasan Kajoetangan yang kurang diperhatikan menjadikan kawasan ini terkesan “semrawut” dan pada akhirnya menghilangkan citra yang khas. Saat ini pada kawasan Kajoetangan diperlukan suatu perangkat untuk mengendalikan dalam bentuk peraturan-peraturan baik berupa UDGL (Urban Design Guide Line) atau panduan rancang kota.
Dalam usaha melestarikan bangunan lama, pemerintah perlu menerapkan sistem incentive sebagai “rangsangan” atau penghargaan bagi siapa saja yang menjaga keaslian ataupun dapat memanfaatkannya tanpa harus merusak atau membongkar bangunan yang mempunyai nilai-nilai tertentu. Pemerintah hendaknya lebih tegas dalam membuat peraturan tentang pemasangan reklame terutama pada fasade bangunan agar tampilan karakter visual kawasan Kajoetangan tertata rapi dan indah dari segi Arsitektural. (RW)

[1] Doktor bidang urban and regional planning dengan latar belakang pendidikan s1 dan s2 bidang Arsitektur, dosen Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Merdeka Malang.

Thursday, August 03, 2006

Pelangi Kampus dan Pelangi Indonesiaku; Sebuah Renungan

Pelangi Kampus dan Pelangi Imdonesiaku; Sebuah Renungan
Oleh: Ir. Respati wikantiyoso, MSA., PhD.


Iklim dunia pendidikan di Indonesia saat ini sedang mengalami kondisi yang sangat memprihatinkan. Beberapa pakar pendidikan menyatakan bahwa sistem Pendidikan Nasional kita saat ini merupakan klimaks dari ketidakmampuan meletakkan dasar-dasar sistem pendidikan nasional. Terjadinya perubahan kurikulum, perubahan nama sekolah menengah, privatisasi (otonomi) PTN, serta sistem kontrol penyelenggaraan pendidikan di semua level telah memberikan dampak terjadinya perubahan paradigma managemen penyelenggaraan lembaga pendidikan di semua level.
Keadaan ini juga di stimulus oleh “iklim” global yang melanda dunia pendidikan. Beberapa lembaga pendidikan Luar Negri (tingkat pendidikan menengah dan tinggi) banyak yang melakukan ekspansi pasar ke Indonesia. Lembaga-lembaga tersebut diarahkan untuk “menjaring” segmen golongan atas (masyarakat mampu secara finansial), yang notabene sangat diperlukan oleh penyelenggara pendidikan (baca: pemerintah) sebagai segmen yang mampu memberikan subsidi silang bagi golongan masyarakat yang tidak atau kurang mampu secara finansial. Ada beberapa sebab ketertarikan golongan “the have” kepada intitusi pendidikan di LN antara lain ; (1) karena alasan gengsi atau “prestige” yang memang harganya mahal ?; (2) pendidikan di LN dianggap lebih berkualitas di banding di dalam negri. Tetapi bukanlah pemerintah telah memberi subsidi yang relatif besar ke PTN. Mestinya kualitas PTN kita mampu bersaing ditingkat global , bukan bersaing dengan PTS di tingkat lokal. Tetapi faktanya di Asia saja PTN kita hanya menduduki peringkat di atas angka 60-an. Kondisi saat ini justru muncul kekhawatiran dengan otonomi kampus PTN yang telah memiliki ”brand image” sangat baik di tingkat Nasional akan mengalami penurunan kualitas karena menyelenggarakan pendidikannya dengan sistem “kodian”.
Lalu bangaimana dengan Perguruan Tinggi Swasta ?. PTS sejak awal dengan segala kemampuan dan “kreativitasnya” mampu mandiri dengan subsidi pemerintah (yang yaris atau sama dengan “nol”), survive dan mampu mengembangkan diri di lingkungan eksternal yang penuh tantangan. Kebijakan pemerintah yang masih “memarginalkan” PTS dalam memeroleh grant pengembangan institusi. Gambaran di atas adalah fakta. Kita coba untuk berfikir positif dan sedikit dewasa untuk menerima fakta itu dengan konteks “kesabarannya” dan tidak untuk menyalahkan faktor eksternal tersebut. Yang menjadi pertanyaan kita adalah bagaimana kondisi internal kita ? Apakah secara internal kita cukup kuat untuk mampu bersaing dalam kondisi eksternal yang semakin “mendung” ? Apakah kita mampu memunculkan titik-titik embun yang segar yang ditandai dengan kemunculan sebuah PELANGI harapan bagi kemapanan, serta penjaminan kualitas kehidupan kampus yang baik di masa depan bagi seluruh Civitas Akademika atau masyarakat kampus ?
Mari kita coba untuk memaknai keindahan pelangi yang walaupun munculnya sesaat tetapi banyak dinantikan insan, dan saat inipun sangat sulit untuk ditemui. PELANGI dapat dimaknai sebagai suatu potensi yang menjanjikan hadirnya suatu kondisi yang cerah, selalu hadir dalam kesejukan yang “kondusif” bagi jiwa seseorang serta mampu menghadirkan ketenangan. Pelangi adalah suatu komposisi warna yang sudah memiliki “patron” atau pola Me-Ji-Ku-Hi-Bi-Ni-dan Ungu. Keindahan dengan ritme dan “harmoni” warna. Mestinya akan rusak bila susunan komposisi tersebut berubah bahkan makna dan kesan keharmonisan itu juga akan hilang. Itulah esensi dan keindahan suatu PELANGI yang menjanjikan suatu harapan.
Indonesia atau “kita” sebenarnya memiliki potensi Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat besar dan sangat beragam dari segi bidang keahlian, kemampuan personal, potensi kerjasama, sampai kepada sifat individual yang sangat beragam. Kondisi tersebut seperti unsur-unsur warna dalam PELANGI yang apa bila muncul secara individual maka akan menghadirkan warna MERAH – INGGA – KUNING – HIJAU – BIRU - NILA dan UNGU, yang mungkin akan menyakitkan mata, atau rasa silau bagi orang yang memandangnya. Tetapi akan berbeda jika keharmonisan “MEJIKUHIBINIU” Pelangi dapat kita hadirkan dalam institusi civitas academika (baca: komunitas pendidikan tinggi) untuk membangun Indonesia ini menjadi lebih kuat dari dalam. Diperlukan suatu sinergi semua elemen-unsur atau individu yang ada, tetapi sebenarnya juga tidak hanya syarat sinergi yang diperlukan, tetapi juga kesediaan untuk melakukan “pelunakan” atau penyesuaian diri secara individu maupun kelompok untuk menciptakan keharmonisan hubungan. Seperti halnya unsur MERAH dengan JINGGA (analog warna lainnya), ada kesediaan kedua warna tersebut untuk “menyesuaikan” dengan menghasilkan “gradasi” warna antara MERAH-JINGGA. Keadaan yang kemudian terwujud adalah keharmonisan sebuah susunan warna, secara makro terciptalah keindahan PELANGI.
Indonesia saat ini sedang mengalami proses perubahan yang sangat mendasar. Dan hal ini merupakan potensi yang harus disikapi positif oleh kita semua. Kita harus sadar bahwa melakukan perubahan harus dilakukan secara “harmonis” dan memerlukan waktu yang tidak seperti “pertunjukan sulap” yang kelihatannya sangat besar terjadi perubahan, hanya dengan kalimat: “sim-salabim” maka berubahlah. Kalau kita cermati proses perubahan “sulap” tersebut hanya fatamorgana (kaget dan/atau puas sesaat) saja, tetapi proses perubahan tersebut syarat akan “tipu muslihat”. Tentunya kita akan memilih perubahan yang harmonis, kontinue dan berkelanjutan. Kesadaran ini harus dapat kita bangun bersama untuk menciptakan perubahan negeri tercinta ini secara baik, harmoni dan indah untuk dinikmati.
Image sebuah pelangi memang indah dari kejauhan, demikian juga yang kita harapkan bahwa Indonesia ini harus kita bangun image-nya supaya dari lingkungan eksternal terlihat indah (image yang baik), sehingga menarik untuk dilihat, bahkan didekati dan dimasuki. Tetapi kita juga harus sadar bahwa tidak ada sesuatu yang sempurna, bahwa pelangipun mungkin hanya menghadirkan keindahan “fatamorgana” kalau ini kita sadari maka keindahan itu harus berkualitas. Maknanya kesadaran pengembangan kualitas harus menjadi dasar dalam menciptakan pelangi Indonesia masa depan. Uraian ini sebenarnya hanya merupakan upaya pencerahan kondisi kita bersama. Semoga kita bisa mensinergikan semua potensi yang kita miliki untuk menciptakan perubahan (baca:perbaikan ke depan) dengan semangat keluar dari tantangan eksternal yang semakin “mendung”, dan kita hadirkan PELANGI dengan keindahan yang berkualitas bukan keindahan fatamorgana dari PELANGI. (RW, 2006)